Daftar Isi
Sir Alex Ferguson baru-baru ini mengenang kembali momen-momen emosional di penghujung kariernya sebagai manajer Manchester United serta awal perjalanannya meraih gelar Liga Primer. Melalui buku terbarunya yang berjudul Games of My Life, ia memilih 21 pertandingan penting yang menyimpan cerita personal dari masa kecil, saat menjadi pemain, hingga dekade kepelatihannya seperti dilaporkan FourFourTwo.
Pertandingan Penentu dan Kedatangan Eric Cantona
Dalam buku tersebut, Ferguson mengulas pertandingan melawan Crystal Palace pada 2 September 1992 yang berkesudahan dengan skor 1-0. Harapan awalnya untuk musim 1992-1993 sempat runtuh setelah rekrutan baru Dion Dublin mengalami patah tulang fibula dan dislokasi engkel akibat tekel dari Eric Young, yang membuatnya harus absen selama enam bulan.
Setelah gagal mendatangkan sejumlah penyerang lain seperti Alan Shearer dan David Hirst, Ferguson akhirnya tanpa sengaja mendaratkan Eric Cantona setelah melakukan perbincangan terkait ketertarikan Leeds United pada Denis Irwin. Kehadiran Cantona mengubah peruntungan klub hingga mengakhiri puasa gelar liga sejak 1967, meskipun mereka gagal juara pada musim 1994-1995 akibat sanksi larangan bermain yang diterima Cantona setelah insiden dengan seorang pendukung Crystal Palace.
Laga Perpisahan dan Akhir Karier Manajerial
Ferguson juga mengenang pertandingan terakhirnya sebagai manajer ketika Manchester United bermain imbang 5-5 melawan West Bromwich Albion pada 19 Mei 2013. Alih-alih suasana ruang ganti yang dipenuhi kemarahan akibat keunggulan yang terbuang, yang ada justru perayaan atas gelar liga dan laga ke-718 Paul Scholes sekaligus pertandingan profesional terakhir bagi sang manajer.
Keputusan untuk pensiun ia simpan rapat-rapat setelah kematian iparnya, Bridget, pada Oktober 2012 yang mengubah segalanya. Setelah menyampaikan pengunduran dirinya kepada staf pelatih dan pemain, ia mengaku langsung duduk di meja kerjanya dan menangis menyadari perjalanan panjangnya di dunia kepelatihan telah berakhir.
Kisah Lain di Luar Lapangan
Buku memoar tersebut juga mengungkap berbagai kisah menarik lainnya, mulai dari masa kecilnya di Govan, Glasgow, hingga pengalamannya mengelola dua pub di Skotlandia saat awal karier manajerialnya di East Stirlingshire dan St Mirren. Selain itu, ia turut membahas perannya bersama sang istri Cathy, perseteruannya dengan mendiang Brian Clough, hingga surat-surat ancaman yang ia terima setelah menjual beberapa pemain bintang pada musim panas 1995 demi memberi jalan bagi generasi Class of 92.
Di akhir catatan bukunya, Ferguson juga menyampaikan penyesalannya karena terlambat bertemu dengan Pep Guardiola di New York pada 2012 sebelum pelatih asal Catalan itu memutuskan menangani Bayern Munich.
Sumber: Latest from FourFourTwo







