Liga Primer

Misi Arsenal Akhiri Rekor Buruk di Anfield

Misi Arsenal Akhiri Rekor Buruk di Anfield
Daftar Isi
  1. Memori Kelam dan Rekor Buruk Mikel Arteta di Anfield
  2. Krisis Kedalaman Skuad dan Inspirasi Taktik 1989
  3. Filosofi Pertahanan dan Senjata Bola Mati

Arsenal bersiap bertanding menghadapi Liverpool di Anfield pada laga lanjutan Liga Premier Inggris dengan membayangi rekor buruk. Klub asal London tersebut mencatatkan 13 pertandingan liga tanpa kemenangan di markas Liverpool, yang menyamai rekor terburuk dalam sejarah klub. Laga ini menjadi tantangan besar bagi manajer Mikel Arteta, terlebih timnya baru saja tersingkir secara mengejutkan dari Carabao Cup setelah dikalahkan Fleetwood Town lima hari sebelumnya.

Memori Kelam dan Rekor Buruk Mikel Arteta di Anfield

Mikel Arteta memiliki sejarah panjang yang penuh dinamika di Anfield, baik saat menjadi pemain maupun manajer. Ketika membela Everton pada 2011, Arteta menggambarkan perasaannya di Anfield dengan kata Spanyol bajar, yang merujuk pada momen ketika seorang pesepeda mendadak kehilangan tenaga di tengah pendakian. Seperti dilaporkan The Guardian, Arteta sempat mengungkapkan bahwa laga berjalan baik sampai tiba-tiba ia hanya melihat kaus merah beterbangan dan merasa tidak bisa bereaksi.

Arteta meraih kemenangan pertamanya di Anfield sebagai pemain Arsenal pada September 2012 setelah lima kali gagal bersama Everton. Namun, laga tersebut harus diakhiri di rumah sakit akibat benturan keras dengan Jordan Henderson yang mengakibatkan gegar otak. Kemenangan terakhir Arsenal di Anfield dalam ajang Liga Premier terjadi enam bulan kemudian, tepatnya pada Maret 2013, lewat gol Lukas Podolski dan Santi Cazorla. Sejak saat itu, Arsenal tidak pernah lagi membawa pulang tiga poin dari pertandingan liga di stadion tersebut. Kemenangan tunggal Arteta di sana sebagai manajer hanya terjadi pada ajang League Cup 2020 melalui adu penalti.

Upaya Arteta mematahkan tren negatif di Anfield juga diwarnai cerita unik. Pada November 2021, ia memutar lagu khas Liverpool, “You’ll Never Walk Alone”, melalui pengeras suara di lapangan latihan untuk mempersiapkan mental para pemainnya, meski pertandingan akhirnya selesai dengan kekalahan 0-4. Pada kekalahan di akhir Agustus musim lalu, tendangan bebas Dominik Szoboszlai menghentikan rentetan tiga hasil imbang Arsenal di Anfield. Penampilan tersebut memicu kritik dari pengamat Gary Neville, yang menilai Arsenal kurang memiliki mentalitas untuk memenangi laga besar di kandang lawan. Hal itu didasari fakta bahwa Arsenal belum pernah menang atas Manchester City di Etihad dalam ajang Liga Premier sejak 2015 saat masih dilatih Arsene Wenger.

Krisis Kedalaman Skuad dan Inspirasi Taktik 1989

Kondisi Arsenal makin diperberat oleh kekalahan adu penalti dari Fleetwood, tim yang berada 84 tingkat di bawah mereka dalam hierarki sepak bola Inggris dan memiliki kapasitas stadion di bawah 6.000 penonton. Hasil tersebut membangkitkan kembali ingatan pahit atas kekalahan dari Paris Saint-Germain pada final Liga Champions bulan Mei lalu. Selain itu, lini depan Arsenal sedang mengalami penurunan performa, dengan Kai Havertz dan Viktor Gyokeres yang tampil kurang maksimal. Absennya Bukayo Saka akibat cedera paha, masalah pergelangan kaki Noni Madueke, serta hukuman larangan bertanding tiga laga bagi Max Dowman setelah banding kartu merahnya ditolak, makin mempersempit pilihan pemain bagi Arteta.

Untuk mengatasi situasi ini, Arteta dapat mengambil inspirasi dari taktik legendaris George Graham pada musim 1988-1989. Saat itu, Arsenal membutuhkan kemenangan 2-0 di Anfield pada laga pamungkas untuk mengunci gelar juara liga. Graham menerapkan pendekatan bertahan yang disiplin pada babak pertama sebelum akhirnya Michael Thomas mencetak gol di masa perpanjangan waktu untuk mengakhiri penantian gelar juara Arsenal selama 18 tahun.

Laga bersejarah pada 1989 tersebut juga dikenang lewat aksi para pemain Arsenal yang membawakan bunga ke empat sudut stadion untuk para pendukung Liverpool sebagai bentuk simpati atas tragedi Hillsborough. Aksi tersebut digagas oleh mendiang direktur veteran klub, Ken Friar, yang wafat pada bulan ini.

Filosofi Pertahanan dan Senjata Bola Mati

Terdapat kemiripan antara George Graham dan Mikel Arteta, yang mana keduanya berusia 44 tahun saat meraih gelar liga pertama mereka. Graham dikenal dengan filosofi pertahanan kokoh yang mempopulerkan slogan “1-0 to the Arsenal”. Filosofi bertahan tersebut kembali dihidupkan oleh Arteta sejak menjabat pada Desember 2019, dengan mengoleksi 32 kemenangan berkor 1-0 di Liga Premier, catatan terbanyak di antara klub lain selain Everton.

Pertahanan yang solid dan keunggulan dalam situasi bola mati dapat menjadi strategi utama Arsenal saat menghadapi Liverpool yang dilatih oleh kawan masa kecil Arteta, Andoni Iraola. Arsenal baru saja mencetak gol pertama mereka musim ini dari skenario bola mati saat menang 2-0 atas Everton Sabtu lalu. Arteta menekankan pentingnya organisasi pertahanan timnya demi meningkatkan peluang meraih hasil maksimal.

“Secara kolektif, kami mengakui pentingnya bertahan. Kami tahu bahwa jika kami unggul dalam bagian permainan itu, peluang dan probabilitas untuk memenangkan lebih banyak pertandingan akan menjadi sangat, sangat tinggi,” ujar Arteta kepada The Guardian.

Tersingkirnya Arsenal dari Carabao Cup setidaknya mengurangi kepadatan jadwal pertandingan skuad Arteta yang sempat menembus semifinal dan final dalam dua musim terakhir. Bagi Arteta, satu-satunya cara untuk membangkitkan tim dari hasil mengecewakan tersebut adalah dengan mengulang pendekatan taktis sukses George Graham di Anfield pada pertandingan hari Minggu.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *