Daftar Isi
Sejak masuk dalam daftar 50 hal olahraga yang wajib disaksikan sebelum meninggal oleh Observer Sport Monthly pada 2004, Superclásico di Buenos Aires menempati posisi kuat dalam imajinasi global. Pertandingan penuh warna, gairah, dan emosi tanpa batas ini memadukan sorak-sorak terkoordinasi, pita kertas mengkilap, kepulan asap suar, hingga benturan beton dari puluhan ribu penonton yang melompat bersama.
Perubahan Suasana dan Absennya Suporter Tandang
Pertandingan antara Boca Juniors dan River Plate di La Bombonera menghadirkan pemandangan yang jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Sejak 2013, pertandingan sepak bola di Argentina digelar tanpa kehadiran suporter tim tamu, sehingga palet warna stadion menjadi jauh lebih terbatas.
Jurnalis Argentina, Ezequiel Fernández Moores, mengenang Superclásico pertama tanpa suporter tandang di Stadion Monumental pada 2013. Saat Emmanuel Gigliotti mencetak gol untuk membawa Boca unggul, Moores mendengar seseorang di area pers hampir meneriakkan kegembiraan sebelum menyadari bahwa kegembiraan non-tuan rumah harus ditekan.
Ketiadaan suporter tandang turut tercermin dari absennya jurnalis tamu di area tribun. Para jurnalis kini duduk di meja sejajar dengan tingkat tengah tribun kandang, tempat kelompok suporter terorganisir La Doce memimpin jalannya yel-yel.
Sejarah Kekerasan dan Tragedi Kelam
Penggunaan piroteknik di stadion dulunya diselundupkan oleh La Doce, yang juga mengoordinasikan pelepasan balon biru dan emas saat para pemain keluar dari terowongan. Pemimpin infamous La Doce beberapa dekade lalu adalah José Barritta, yang pernah ditemui untuk sebuah liputan warna pada 1994 di tribun tingkat tengah.
Sore hari tersebut berujung pada tragedi dengan tewasnya dua pendukung River Plate akibat tembakan setelah pertandingan. Coretan grafiti muncul di dekat lokasi dengan tulisan yang menyamakan dua nyawa muda dengan dua gol kemenangan River, membuat tulisan tersebut batal diterbitkan dan beralih menjadi kesaksian bahwa Barritta tidak terlibat.
Kematian dalam Superclásico bukanlah hal baru, mengingat pada 1968 sebanyak 71 suporter, sebagian besar pendukung Boca, tewas terinjak-injak akibat salah satu pintu keluar suporter tandang tidak terbuka sepenuhnya. Insiden yang dikenal sebagai Puerta 12 tersebut menyisakan banyak misteri, meski El Gráfico melaporkan suporter kedua klub sempat melakukan aksi protes bersama menentang kepolisian pada tahun berikutnya.
Eksperimen Final Libertadores dan Era Baru
Pada 2018, Boca dan River bertemu di final Copa Libertadores dengan Presiden Argentina saat itu, Mauricio Macri, mengizinkan suporter tandang kembali hadir dalam satu pertandingan uji coba. Bus Boca diserbu dengan lemparan batu dan kendali pengamanan di sekitar Stadion River runtuh, membuat penonton tertahan selama hampir lima jam sebelum laga dibatalkan dan dipindahkan ke Madrid.
Pertandingan terbaru tidak memiliki kaliber sebesar final Libertadores, namun kemenangan tipis 1-0 Boca atas River yang harus bermain dengan sembilan pemain memastikan tempat Boca di ajang Libertadores tahun depan. Komentator radio Victor Hugo Morales, yang merayakan 60 tahun hari pertamanya siaran radio, menyebutkan bahwa dirinya telah menyaksikan banyak Superclásico dengan berbagai dinamika yang berbeda.
Perubahan generasi turut mengubah cara pandang terhadap laga sarat gengsi ini, di mana kreator konten Davo menyatakan bahwa laga tersebut baginya hanyalah pertandingan biasa di tengah fokus pada turnamen lain. Keinginan untuk menyaksikan Superclásico bersama anggota keluarga dari kubu pendukung yang berbeda masih menjadi an harapan bagi sebagian penonton di tengah aturan ketat yang berlaku.
Sumber: Football | The Guardian







