Marcel Wontorra resmi ditunjuk sebagai direktur pelaksana pertama Frauen-Bundesliga menyusul langkah kompetisi kasta tertinggi sepak bola wanita Jerman tersebut untuk memisahkan diri dari Federasi Sepak Bola Jerman (DFB).
Struktur Baru dan Pengalaman Media
Pria berusia 35 tahun itu saat ini menjabat sebagai chief operating officer di platform penyiaran streaming Dyn Sport, tempat ia menjadi bagian dari tim kepemimpinan sejak 2022 setelah sebelumnya bekerja beberapa tahun di penerbit Axel Springer. Wontorra merupakan putra dari pembawa acara TV veteran Jörg Wontorra sekaligus saudara kandung penyiar Laura Wontorra. Kepastian tanggal ia mulai menjalankan tugas barunya sejauh ini belum dikonfirmasi.
Wontorra menyatakan berkeinginan untuk meningkatkan kehadiran media dan digital liga, serta membuatnya lebih menarik bagi para penggemar, pemain, hingga mitra komersial demi mendorong pertumbuhan olahraga dan ekonomi. Penunjukannya dilakukan menyusul keputusan DFB dalam kongres luar biasa pada 18 September lalu yang menyetujui pemisahan liga tersebut. Melansir laporan OneFootball, perjanjian pendirian dan sewa bakal mulai berlaku pada 1 Juli tahun depan.
Di bawah struktur baru ini, Frauen-Bundesliga akan beroperasi melalui anak perusahaan berbentuk GmbH yang bertanggung jawab atas organisasi, pemasaran, dan pengembangan liga di bawah kepemimpinan Wontorra. Pengalamannya di platform streaming olahraga dinilai memberi kekuatan bagi liga dalam memahami cara membangun serta memonetisasi penonton masa kini.
Mengikuti Jejak Liga Inggris
Keputusan mandiri ini mendekatkan Jerman pada model yang lebih dahulu diterapkan di Inggris. Pada 2024, Women’s Super League lepas dari kontrol langsung Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) dan dialihkan ke bawah naungan perusahaan independen untuk menarik investasi serta mempercepat pertumbuhan komersial.
Jerman memiliki sejarah panjang dan kuat di kancah sepak bola wanita dunia lewat raihan delapan gelar Kejuaraan Eropa dan dua Piala Dunia. Namun, kompetisi domestiknya dalam beberapa tahun terakhir masih tertinggal dari Inggris dari segi pendapatan, jumlah kehadiran penonton di stadion, hingga nilai hak siar.
Sumber: Inside World Football







