Analisis

Maniche Kenang Laga Terkotor di Sejarah Piala Dunia

Maniche Kenang Laga Terkotor di Sejarah Piala Dunia

Pertandingan perempat final Piala Dunia 2006 antara Portugal dan Belanda mencatatkan sejarah kelam sebagai laga paling kotor sepanjang penyelenggaraan turnamen tersebut. Duel yang dijuluki “Pertangahan Nuremberg” ini diwarnai oleh hujan kartu kuning dan merah dari wasit.

Pertandingan Penuh Ketegangan

Mantan gelandang tim nasional Portugal, Maniche, mengungkapkan kepada FourFourTwo bahwa laga tersebut berjalan sangat keras dan bermusuhan. Menurutnya, tensi pertandingan sangat tinggi dan konstan karena kedua tim sama-sama mengincar kemenangan demi mengamankan tempat di babak selanjutnya.

“Nuremberg witnessed an all-out battle,” ujar Maniche seperti dilaporkan FourFourTwo.

“It was an ugly, hostile match – although for someone like me, it was a kind of enjoyment.”

“Every action was played on the edge, with enormous and constant tension. Winning justified everything.”

Maniche juga menambahkan bahwa atmosfer panas tersebut tidak lepas dari rekam jejak pertemuan kedua tim sebelumnya. Rivalitas yang kuat sudah terbangun sejak kedua negara bertemu di semifinal Euro 2004, di mana Portugal saat itu keluar sebagai pemenang dengan skor 2-1.

Rekor Kartu dan Gol Penentu

Pertandingan di Nuremberg tersebut menjadi ujian berat bagi wasit asal Rusia yang memimpin jalannya laga. Sang pengadil lapangan harus mengeluarkan total 12 kartu kuning dan empat kartu merah kepada pemain dari kedua kesebelasan.

“It was an extremely difficult game for the Russian referee,” tutur Maniche.

“He sent off four players (Costinha, Khalid Boulahrouz, Deco and Giovanni van Bronckhorst) and showed 12 yellow cards, the worst disciplinary record in World Cup history.”

Di tengah ketatnya duel keras tersebut, Maniche menjadi pahlawan kemenangan Portugal. Setelah sebelumnya mencetak gol pembuka saat mengalahkan Meksiko di fase grup, ia kembali mencatatkan namanya di papan skor pada pertengahan babak pertama untuk memastikan kemenangan tipis timnya.

“I was fortunate to score again – the only goal of the match,” kata Maniche.

“I remember celebrating by kissing the badge in front of our fans.”

“It was a hard-fought victory and that’s why it felt so special. It’s match that will stay in my memory for the rest of my life.”

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *