Liga & Hasil

Kutukan Kursi Panas Manchester United, Misi Mustahil di Old Trafford

Kutukan Kursi Panas Manchester United, Misi Mustahil di Old Trafford
Daftar Isi
  1. Bayang-bayang Kejayaan Masa Lalu
  2. Sejarah Panjang Pemecatan dan Intrik Internal
  3. Kegagalan Pola Kepemimpinan Modern

Klub berjuluk Setan Merah ini seolah mengonfirmasi teori “Orang Besar” dalam sejarah sepak bola, di mana dalam seratus tahun terakhir hanya Matt Busby dan Alex Ferguson yang mampu meracik formula kesuksesan. Di luar kedua sosok asal Skotlandia tersebut, Manchester United kerap menjadi tempat pembuangan manajer, dengan Michael Carrick berpotensi menjadi korban berikutnya.

Bayang-bayang Kejayaan Masa Lalu

Busby dan Ferguson membangun klub di sekitar otoritas mereka sendiri, bermodalkan kharisma untuk meyakinkan pihak lain agar mengikuti visi mereka. Carrick, sebagai figur internal klub, justru terperangkap dalam keterasingan yang sama seperti para pendahulunya yang gagal. Tindakan Bruno Fernandes dan Lisandro Martínez yang berbicara di luar jalur dalam wawancara televisi sebenarnya masih mengikuti tradisi klub, di mana kemewahan selalu dibarengi dekadensi dan kemunduran yang kerap memaksa seorang manajer terdepak dari Old Trafford.

Di luar Busby dan Ferguson, setiap manajer tetap United merasakan keputusasaan sebagai raksasa yang runtuh. Pemecatan mereka selalu diwarnai intrik politik internal yang tajam. Favoritisme, nepotisme, kepentingan diri sendiri, rasa berhak, kepuasan diri, dan sentimentalitas menjadi bentuk pengkhianatan terhadap legenda klub, seperti yang diulas dalam buku “J’accuse” karya Michael Crick dan David Smith pada tahun 1989. Tantangan terbesar mereka adalah hidup dalam bayang-bayang pengaruh kedua manajer legendaris tersebut.

Sejarah Panjang Pemecatan dan Intrik Internal

Para suporter United sangat akurat memahami sejarah kelam ini, termasuk ketika Brian Kidd menegur rekan setimnya saat Wilf McGuinness, pengganti langsung Busby, dipecat pada Desember 1970. Pertemuan di Selhurst Park pada Desember 1972 ketika Crystal Palace mengalahkan United lima gol tanpa balas juga mempercepat akhir masa kepemimpinan Frank O’Farrell. O’Farrell bahkan harus meminta izin kepada Busby agar manajer lama itu bersedia mengosongkan ruang kerja manajer.

Sikap indulgensi Busby terhadap George Best yang menuju kehancuran menciptakan masalah pelik bagi O’Farrell. Tommy Docherty kemudian mengambil alih dan memecat Best pada Januari 1974, namun keputusannya mendepak Bobby Charlton, Denis Law, dan Paddy Crerand menciptakan banyak musuh baru. Hubungan asmaranya dengan Mary Brown akhirnya dimanfaatkan mayoritas moral dewan direksi untuk menyingkirkan manajer yang dinilai terlalu bergejolak tersebut.

Para penerus Ferguson juga harus berhadapan dengan kehadiran sang mantan manajer yang kerap disorot kamera di tribun penonton. Restu Ferguson terhadap pengambilalihan klub oleh Malcolm Glazer pada tahun 2005 menjadi warisan meragukan bagi para penggantinya. Meskipun Ferguson sebagian besar bersikap tenang sebagai duta klub bergaji tinggi hingga Sir Jim Ratcliffe membatalkan honor tahunan senilai dua juta poundsterling pada tahun 2024, beberapa celetukan lepasnya kerap bocor ke media sosial, seperti saat ia mengkritik keputusan Ole Gunnar Solskjaer yang mencadangkan Cristiano Ronaldo pada tahun 2021.

Kegagalan Pola Kepemimpinan Modern

Berusaha meniru gaya kepemimpinan Ferguson terbukti menjadi sebuah kekeliruan besar. Carrick tampaknya telah belajar dari pengalaman Solskjaer, di mana sang manajer asal Norwegia tersebut gagal total saat mencoba bergaya sebagai figur keras ala Skotlandia. Kendati demikian, pendekatan yang mengandalkan figur otoriter jantan seperti Louis van Gaal dan José Mourinho juga tidak memberikan hasil memuaskan.

Waktu mungkin melunakkan penilaian terhadap era Van Gaal dan Mourinho seiring menumpuknya kegagalan berikutnya, namun keduanya sama sekali gagal memenuhi ekspektasi permainan menyerang klub. Proses penunjukan Mourinho diwarnai intrik terselubung yang serupa dengan pemecatan era pasca-Busby. Upaya terus dilakukan oleh para operator keluarga Glazer dan Ineos di bawah kendali Ratcliffe sejak Desember 2023 untuk melakukan korporatisasi dan profesionalisasi, namun sifat berlebihan serta anarki internal United selalu berhasil mengalahkan rasionalitas.

Mourinho sempat mencoba merevisi porsi kisahnya dalam sebuah serial dokumenter bersama Ferguson untuk menepis anggapan negatif mengenai penolakan tawarannya pada tahun 2013. Upaya tersebut tampak tidak meyakinkan untuk membersihkan reputasi kedua tokoh itu. Sementara itu, David Moyes harus menerima takdir sebagai pihak yang diposisikan sebagai pemikir belakangan ketika ditunjuk pada Juli 2013 silam.

Reputasi Moyes sedikit terangkat akibat rentetan kegagalan para penggantinya, termasuk era Mourinho yang penuh ketegangan serta Erik ten Hag yang dipertahankan Ineos pada musim panas 2024 secara membingungkan. Apakah Manchester United menjadi klub yang tidak mungkin dikendalikan? Busby dan Ferguson telah membuktikan bahwa hal tersebut dapat dilakukan, meski peluang lahirnya dinasti baru semakin menipis seiring masih suburnya sifat keangkuhan, konspirasi, serta kepentingan pribadi yang melekat di dalam tubuh klub.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *