Analisis

Dilema Taktik Matthias Jaissle di Newcastle United

Dilema Taktik Matthias Jaissle di Newcastle United

Filosofi taktik Matthias Jaissle bersama Newcastle United dinilai berada dalam situasi rumit yang membahayakan lini belakang tim. Seperti diulas oleh FourFourTwo, pendekatan sepak bola vertikal yang agresif membuat Newcastle kerap terekspos dan menjadi lawan yang empuk bagi tim-tim lawan.

Penerapan Taktik dan Celah di Lini Belakang

Gaya permainan Jaissle terbentuk dari pengalamannya bersama Ralf Rangnick di Hoffenheim, FC Liefering, Red Bull Salzburg, dan Al-Ahli. Inti dari pendekatan ini adalah sepak bola vertikal agresif yang berpusat di lini tengah. Alih-alih melakukan pressing secara horizontal, Jaissle meminta timnya bermain rapat untuk memancing lawan melakukan operan berisiko.

Begitu kehilangan penguasaan bola, para pemain terdekat langsung mengerumuni pembawa bola dalam sebuah kandang kompak untuk merebutnya kembali dalam tempo delapan detik. Bek sayap dan gelandang tengah tetap berada di posisi tinggi saat menyerang, sehingga transisi bertahan terjadi sejauh 40 hingga 50 meter dari gawang sendiri. Namun, seperti terlihat saat melawan Everton, strategi ini meninggalkan celah yang sangat besar di lini belakang.

Tim seperti Leeds, Coventry, dan Everton membuktikan bahwa lini belakang Newcastle dapat ditembus hanya melalui dua operan sederhana. Newcastle sempat tampil menekan dan menciptakan peluang di awal laga, tetapi kemudian mengalami kelelahan. Lawan membaca pola tersebut dengan meredam tekanan hingga fisik pemain Newcastle menurun, lalu mengeksploitasi ruang kosong di area pertahanan mereka.

Skuad Newcastle saat ini dinilai tidak memiliki profil pemain muda yang sangat atletik untuk menjalankan lari tanpa henti selama sembilan puluh menit seperti tim-tim sukses Jaissle sebelumnya. Akibatnya, mereka terlihat sangat rentan menjelang akhir babak.

Minim Kontrol Permainan dan Respons Pelatih

Dalam hal penguasaan bola, Newcastle sebenarnya tampil cukup menyerang dengan catatan 28 tembakan berbanding 11 milik Everton dalam pertandingan tersebut. Namun, mereka tidak pernah merasa memegang kendali penuh dalam suatu pertandingan selama lebih dari 30 menit sepanjang musim ini.

Pelatih Everton dalam konferensi pers pascalaga mengakui bahwa timnya harus melalui tekanan berat sebelum akhirnya memanfaatkan celah untuk mencetak gol. Sementara itu, Matthias Jaissle mengatakan situasi saat ini terasa mengejutkan karena secara keseluruhan jalannya pertandingan tidak terlalu buruk, namun timnya kembali gagal memanfaatkan peluang penting.

Jaissle menyatakan bahwa situasi ini merupakan sebuah proses pembelajaran, meski klub tidak memiliki banyak waktu terutama dengan para pemain muda. Di sisi lain, sumber internal klub menyebutkan bahwa manajemen tetap memandang Jaissle sebagai investasi jangka panjang dan akan memberikannya waktu untuk menerapkan metode kepelatihannya selama hasil pertandingan tidak memburuk secara drastis.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *