Olwethu Makhanya muncul sebagai pahlawan setelah mencetak gol penyeimbang dramatis yang menyelamatkan Rangers dari kekalahan melawan Hearts di Tynecastle. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 2-2, namun sang bek muda tidak puas dengan penampilan timnya dan secara terbuka mempertanyakan mentalitas rekan-rekan setimnya.
Aksi Dramatis Makhanya Selamatkan Rangers
Rangers sempat memimpin terlebih dahulu ketika pertandingan baru berjalan 16 menit melalui Kevin Kelsy, yang memanfaatkan umpan dari rekan duetnya di lini serang, Ryan Naderi. Namun, tim tamu gagal mempertahankan keunggulan tersebut dan membiarkan Hearts memegang kendali permainan setelah paruh waktu.
Claudio Braga menyamakan kedudukan bagi tuan rumah tak lama setelah babak kedua dimulai, menyambar bola umpan sundulan di dalam kotak penalti. Kurang dari sepuluh menit berselang, Calvin Miller sukses membalikkan keadaan untuk membawa Hearts unggul.
Saat Rangers berada di ambang kekalahan, Makhanya maju sebagai penyelamat pada menit-menit akhir. Ia menyambut tendangan bebas Badredine Bouanani dengan sundulan melengkung untuk memastikan timnya membawa pulang satu poin dari markas lawan.
Gol tersebut merupakan momen spesial bagi bek muda asal Afrika Selatan itu karena menjadi gol perdana miliknya untuk klub. Usai pertandingan, Derek McInnes memberikan banyak pujian atas kontribusi individu sang pemain di tengah malam yang sulit bagi tim tamu, seperti dilaporkan Football FanCast.
“Saya pikir dia sangat luar biasa dan dia harus tampil seperti itu karena penampilan kami di sekitarnya terkadang kurang meyakinkan. Saya pikir dia sangat hebat,” ujar McInnes.
Evaluasi Terbuka dan Dukungan Pelatih
Meski berhasil menyelamatkan satu poin berharga, Makhanya menolak untuk merayakan hasil tersebut dan justru menyampaikan penilaian jujur mengenai kekurangan timnya. Bek tersebut menilai Hearts menunjukkan rasa lapar dan tekad yang lebih besar sepanjang laga, serta meminta rekan-rekan setimnya untuk memperbaiki mentalitas kolektif.
“Mungkin Hearts menunjukkan lebih banyak keinginan daripada kami. Saya merasa mereka bekerja lebih keras dari kami di beberapa momen dan itulah mengapa saya pikir ada kekurangan karakter. Ini adalah sesuatu yang perlu kami perbaiki sebagai tim,” ucap Makhanya.
Pandangan tersebut diamini oleh McInnes, yang mengakui bahwa Rangers gagal menunjukkan otoritas yang memadai setelah berhasil memimpin laga. Menariknya, alih-alih merasa kesal dengan kritik terbuka dari pemainnya, sang pelatih diyakini justru menyambut baik kesiapan Makhanya untuk berbicara secara jujur.
Jurnalis Glasgow Times, Blair Meikle, berpendapat bahwa bos Rangers tersebut tidak akan mempermasalahkan hal itu dan kemungkinan besar merasa senang. Menurut Meikle, McInnes sangat menyukai Makhanya dan senang melihat para pemimpin di skuadnya bersikap jujur serta menyuarakan masalah yang ada agar dapat segera diatasi.
Pendapat serupa disampaikan oleh Graeme Young, yang menilai Makhanya memiliki jiwa kompetitif yang selama ini dicari oleh Rangers. Masalah mengenai mentalitas kolektif Rangers sendiri bukanlah hal baru, mengingat kekhawatiran serupa pernah diungkapkan oleh mantan manajer Danny Rohl semasa bertugas menyusul kekalahan 0-3 dari Brann.
Penunjukan McInnes kini dinilai berada di jalur yang tepat untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan tersebut dengan membangun budaya ruang ganti yang berlandaskan akuntabilitas, kerja keras, dan agresivitas. Kehadiran Makhanya dengan kesiapannya menghadapi kenyataan pahit menunjukkan bahwa pembangunan kembali mentalitas tim bisa sama pentingnya dengan perekrutan pemain yang berbakat secara teknik.
Sumber: Football FanCast







