Fenomena klub sepak bola Inggris yang mengalami degradasi beruntun dari Liga Primer hingga turun ke kasta ketiga dulunya merupakan kejadian yang sangat langka. Namun, berdasarkan data statistik, tren penurunan beruntun dalam dua musim berturut-turut ini kini semakin sering terjadi.
Salah Urus Skuad Pemain Jadi Penyebab Utama
Dalam 20 musim pertama era Liga Primer, peristiwa degradasi beruntun hanya terjadi sekali pada Swindon Town akibat penyesuaian jumlah kontestan liga. Wolves menjadi tim era modern pertama yang merasakannya pada musim 2011-2012, sebelum kemudian disusul oleh Sunderland, Luton Town, dan Leicester City dalam beberapa tahun terakhir.
Menurut pengamat EFL sekaligus mantan gelandang Watford dan Reading, Jobi McAnuff, kepada BBC Sport, kondisi tersebut murni disebabkan oleh salah urus skuad pemain. McAnuff menilai para pemain Luton merasa memiliki keistimewaan untuk bertahan di kasta tertinggi sehingga gagal beradaptasi saat kembali ke Championship, sementara Leicester mempertahankan terlalu banyak pemain yang tidak berniat bertahan atau siap menghadapi pertarungan degradasi.
Di sisi lain, Burnley kini terancam menjadi tim ketiga dalam tiga tahun terakhir yang mengalami degradasi beruntun. Setelah menelan kekalahan 4-1 dari Lincoln City, klub berjuluk The Clarets itu mendepak pelatih kepala Nicky Hayen, menunjuk Diego Lopez sebagai kepala pejabat sepak bola yang baru, serta mengangkat Fabio Celestini sebagai manajer anyar.
Ketimpangan Finansial dan Persaingan Championship
Burnley sebenarnya sempat dikenal sebagai klub yoyo yang naik turun kasta dalam lima musim terakhir, namun kepemilikan leveraged buyout oleh ALK Capital membuat mereka memikul beban utang mencapai 142 juta poundsterling pada akun musim 2024-2025. Klub tersebut juga mencatatkan rekor liga Inggris sebagai tim dengan rentetan tanpa kemenangan kandang terpanjang setelah 378 tahun.
Dari sisi finansial, jurang pemisah antara klub kasta tertinggi dan divisi di bawahnya terlihat sangat lebar. Pendapatan total Burnley pada musim 2024-2025 mencapai 71,7 juta poundsterling ditambah 48 juta poundsterling dari dana parasut (parachute payments), yang jauh melampaui pendapatan Lincoln City sebesar 7,81 juta poundsterling.
Dalam laporan State of the Game, Regulator Sepak Bola Independen (IFR) menyatakan bahwa kesepakatan finansial baru antara Liga Primer dan EFL harus mengurangi dampak distorsif dari dana parasut terhadap insentif keuangan di Championship. Ketua IFR David Kogan mengatakan bahwa peralihan ke sistem pembayaran berdasarkan prestasi (merit payments) akan mempersempit jurang perbedaan pendapatan dan membuat kompetisi Championship menjadi jauh lebih kompetitif.
Meskipun demikian, data IFR menunjukkan bahwa klub penerima dana parasut masih memiliki peluang promosi empat kali lipat lebih besar. McAnuff berpendapat bahwa keunggulan finansial tersebut akan tetap terbukti sangat signifikan bagi tim-tim yang baru turun dari kasta tertinggi, terlepas dari pengurangan dana parasut yang mungkin akan diterapkan di masa depan.
Sumber: BBC Sport







