Para tokoh sepak bola dunia berkumpul di London Palladium untuk menghadiri upacara penghargaan Ballon d’Or. Pemindahan lokasi acara ke Inggris ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada Stanley Matthews yang memenangkan penghargaan tersebut 70 tahun lalu di Balai Kota Blackpool.
Sejarah Awal dan Karier Revolusioner Stanley Matthews
Pada penganugerahan pertama 70 tahun silam, Stanley Matthews yang saat itu berusia 41 tahun menerima trofi dari Gabriel Hanot selaku editor L’Équipe sekaligus penggagas penghargaan pemain terbaik dunia tersebut. Matthews Jr, putra Stanley Matthews, menceritakan bahwa ayahnya menerima piala dari wali kota setempat usai menyampaikan pidato singkat. Menurutnya, acara pada masa itu jauh lebih sederhana dibandingkan perhelatan megah saat ini.
Keputusan membawa ajang ini ke Inggris menjadi bentuk apresiasi atas pencapaian sang legenda yang tercatat sebagai pemain aktif pertama penerima gelar kesatria pada 1965, menjelang masa pensiunnya di usia 50 tahun. Karier profesionalnya dimulai bersama klub lokal Stoke pada 1932 hingga mengukuhkan namanya sebagai pemain paling terkenal di muka bumi dengan julukan “Wizard of Dribble”. Matthews Jr menuturkan bahwa ayahnya sangat visioner dalam hal pola makan, latihan, hingga pemilihan perlengkapan bertanding termasuk sepatu bola yang sangat ringan.
Latar belakang keluarga turut membentuk etos kerja keras sang legenda, di mana ayahnya merupakan seorang petinju terkenal berjuluk Fighting Barber of Hanley. Semasa aktif bermain, Matthews dikenal memiliki rutinitas kebugaran di pantai pada pagi hari dan mengelola sebuah hotel di Blackpool. Sebagai pemenang Ballon d’Or tertua, ia mengoleksi 54 penampilan bersama tim nasional Inggris hingga 1957 di usia 42 tahun, sebuah catatan yang diyakini bisa lebih panjang jika tidak terhalang oleh Perang Dunia Kedua.
Perjuangan Finansial dan Jejak Kiprah di Benua Afrika
Berbeda dari para kandidat peraih Ballon d’Or saat ini yang berstatus jutawan, Matthews hanya menerima bayaran maksimal 20 poundsterling per pekan sebelum pembatasan gaji dihapuskan pada 1961. Joe Pierce, produser film mengenai Matthews pada 2017, membandingkan pendapatan tersebut dengan bintang bisbol Amerika Serikat Joe DiMaggio yang sudah mengantongi 100.000 dolar Amerika Serikat per tahun pada masa kejayaannya. Kondisi finansial tersebut mendorong Matthews melakoni berbagai usaha bisnis mulai dari merek sepatu bola, topi, buku, hingga jus sayuran kaleng yang sempat terkendala masalah kedaluwarsa.
Selain berbisnis, Matthews menambah penghasilan dengan menjadi pelatih di luar negeri saat musim kompetisi libur dan rutin mengunjungi negara-negara Afrika setiap musim panas antara 1953 hingga 1978. Hubungannya yang erat dengan benua hitam bermula saat ia tiba di Ghana untuk melakoni laga ekshibisi perayaan kemerdekaan, di mana dirinya dianugerahi pedang gading dan dinobatkan sebagai “soccerhene” atau kepala sepak bola. Matthews Jr menyebutkan bahwa saudaranya masih menyimpan kursi penobatan sang ayah di Ghana.
Matthews juga menaruh perhatian besar pada sepak bola Afrika Selatan dengan melatih tim di Soweto pada pertengahan dekade 70-an yang dikenal sebagai Stan’s Men. Joe Pierce mengungkapkan bahwa keterlibatan Matthews sempat menghadapi tekanan besar dari pemerintah apartheid dan melibatkan badan intelijen, meski pada akhirnya ia tetap melangkah berkat dukungan jejaring sosial tingkat tinggi termasuk kedekatannya dengan Pangeran Philip. Kiprah kepelatihannya di Afrika Selatan harus berakhir menyusul peristiwa Kerusuhan Soweto 1976. Ketika Matthews tutup usia pada tahun 2000 di umur 85 tahun, proses pemakamannya di Stoke dihadiri lebih dari 100.000 orang.
Sumber: Football | The Guardian







