Daftar Isi
Salah satu kelompok suporter terorganisir Bayer Leverkusen mendesak klub mereka agar melepaskan status pengecualian historis dari aturan kepemilikan 50+1 di sepak bola Jerman. Asosiasi suporter independen Nordkurve12 secara terbuka menantang Bayer AG untuk membuka partisipasi penggemar dan memperingatkan bahwa upaya hukum untuk mempertahankan status khusus tersebut justru dapat mengancam masa depan aturan tersebut.
Tuntutan Nordkurve12 kepada Bayer AG
Seperti dilaporkan Kicker, Nordkurve12 mengeluarkan pernyataan tegas bahwa pengecualian yang dimiliki Leverkusen harus segera diakhiri. Menurut asosiasi suporter tersebut, standar yang berlaku untuk sepak bola Jerman secara keseluruhan juga harus menjadi standar di Leverkusen, dan langkah hukum oleh Bayer AG untuk mempertahankan status khusus dapat memperkeruh perdebatan mengenai masa depan aturan 50+1.
Berdasarkan laporan BILD, tuntutan para pendukung tidak hanya berhenti pada pencabutan pengecualian historis. Nordkurve12 juga mengampanyekan transparansi, partisipasi anggota yang sesungguhnya, serta kerangka kerja bersama agar Leverkusen tunduk pada prinsip kepemilikan yang sama seperti klub profesional Jerman lainnya.
Asosiasi tersebut dikabarkan berencana membahas berbagai tuntutan ini dengan jajaran pimpinan Leverkusen dalam waktu dekat. Langkah ini dinilai sangat krusial mengingat hubungan historis Bayer 04 dengan perusahaan farmasi dan kimia yang menjadi asal nama klub, di mana operasi sepak bola profesional Leverkusen dikendalikan sepenuhnya oleh perusahaan induk korporat tanpa hak suara mayoritas yang biasanya dipegang oleh klub induk beranggotakan suporter.
Tekanan dari Kantor Kartel Federal
Kontroversi terbaru ini muncul menyusul hasil penilaian Kantor Kartel Federal pada Agustus lalu terhadap aturan 50+1. Berdasarkan pemeriksaan Get German Football News, otoritas persaingan usaha Jerman tersebut tidak melarang prinsip kendali anggota dalam sepak bola profesional, namun menyimpulkan bahwa pembenaran hukum persaingan dari aturan itu bergantung pada penerapannya yang konsisten dan tanpa diskriminasi.
Penilaian tersebut menyoroti empat klub secara khusus, termasuk Bayer Leverkusen dan VfL Wolfsburg yang memegang pengecualian historis bagi pendukung korporat mereka, yakni Bayer AG dan Volkswagen, untuk memegang kendali mayoritas. Sementara itu, RB Leipzig menghadapi persoalan terkait akses keanggotaan hak suara biasa, dan Hannover 96 menjadi pusat perhatian mengenai penghormatan hak suara asosiasi induk.
Meskipun penilaian Agustus lalu tidak secara otomatis mencabut pengecualian Leverkusen atau menuntut restrukturisasi kepemilikan seketika, tekanan terhadap liga untuk mencari pengaturan yang lebih konsisten semakin meningkat. Tuntutan Nordkurve12 kini membawa perdebatan tersebut langsung ke dalam komunitas suporter Leverkusen sendiri.
Tanggapan Klub dan Pemungutan Suara Desember
Menanggapi desakan tersebut, pihak Leverkusen menyatakan bahwa klub menanggapi aspirasi partisipasi serta pandangan para suporter dengan serius. Klub menyebutkan dalam pernyataan yang dimuat Kicker bahwa partisipasi anggota adalah hal penting dalam perkembangan lanjutan aturan 50+1, dan mereka sedang bekerja secara konstruktif bersama Bundesliga serta klub-klub lain.
Di sisi lain, Bayer AG sebelumnya menyatakan sikap berhati-hati dengan meninjau secara cermat penilaian Kantor Kartel Federal serta membuka opsi untuk melindungi kepentingan korporasi dan para pemegang saham melalui dialog bersama para pemangku kepentingan.
Gerakan Nordkurve12 merupakan bagian dari mobilisasi yang lebih luas di kancah sepak bola Jerman, di mana aliansi Fanszenen Deutschlands mendesak klub-klub anggota Bundesliga untuk menegaskan kembali komitmen terhadap aturan 50+1 menjelang rapat anggota bulan Desember. Sesuai jadwal liga, 36 klub Bundesliga dan Bundesliga 2 dijadwalkan melakukan pemungutan suara untuk menegaskan prinsip kepemilikan tersebut, sementara proposal final untuk penerapan aturan 50+1 yang lebih seragam diagendakan pada paruh pertama tahun 2027.
Sumber: Get German Football News







