Liga Primer

Phil Neville Sebut MU Jadi Sirkus Usai Peninggalan Ferguson

Phil Neville Sebut MU Jadi Sirkus Usai Peninggalan Ferguson

Phil Neville mengaku terkejut dan membenci situasinya ketika kembali ke Manchester United sebagai pelatih di bawah asuhan David Moyes. Ia menyebut klub berjuluk Setan Merah tersebut berubah menjadi sirkus setelah ditinggal oleh Sir Alex Ferguson pada 2013.

Suasana Klub yang Berubah Drastis

Sir Alex Ferguson menyudahi masa kepelatihannya selama 26 tahun setelah mempersembahkan 38 trofi mayor, lalu digantikan oleh David Moyes. Mantan pemain akademi United yang pernah meraih berbagai gelar juara sebelum pindah ke Everton itu kembali ke Old Trafford sebagai asisten pelatih Moyes dan langsung merasa terkejut dengan apa yang ia saksikan.

Dalam bincang-bincang di CBS Sports Golazo, Phil Neville menjelaskan bahwa dirinya menyaksikan jenis klub yang berbeda jauh dibandingkan saat ia menjalani masa-masa kejayaan dahulu. Fokus di dalam klub tidak lagi berada di atas lapangan hijau, di mana manajer tidak memiliki keputusan akhir maupun wewenang penuh dalam memilih pemain baru.

Menurutnya, kebijakan perekrutan pemain saat itu didasarkan murni pada tingkat kepopuleran, jumlah pengikut media sosial, serta potensi sponsor yang bisa dihasilkan. Pengalaman selama 10 bulan mendampingi David Moyes tersebut dinilainya tidak berbeda jauh dengan situasi yang kemudian dihadapi oleh para penerus seperti Jose Mourinho, Louis van Gaal, Ruben Amorim, Ole Gunnar Solskjaer, hingga Michael Carrick, sehingga ia menilai klub membutuhkan perbaikan total dari pucuk pimpinan hingga level terbawah.

Kepergian David Gill dan Hilangnya Kendali Manajer

Selain mundurnya Ferguson, Phil Neville menilai kepergian Chief Executive Officer David Gill secara bersamaan merupakan faktor krusial di balik kemunduran klub. Ia mengenang bagaimana kombinasi ketegasan Ferguson dan David Gill mampu menjalankan klub dengan baik dari atas hingga bawah, meskipun keluarga Glazer sudah menjadi pemilik saat itu.

Ia mengungkapkan bahwa situasi berubah drastis pada tahun berikutnya ketika kedatangan CEO baru dan manajer baru membuat klub seketika berubah menjadi sirkus sungguhan di mana manajer kehilangan kendali atas jalannya tim. Neville lantas membandingkannya dengan klub-klub lain di Eropa seperti Paris Saint-Germain, Brighton and Hove Albion, Aston Villa, serta Arsenal yang dinilainya memiliki keselarasan kuat dari manajemen puncak hingga bawah, suatu hal yang menurutnya belum terjadi di Manchester United.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *