Kinerja Manchester United yang terus mengecewakan dalam beberapa tahun terakhir memunculkan pertanyaan mengenai kapan daya tarik klub besar tersebut akan memudar. Seperti dilansir dari Planet Football, Manchester United bukanlah klub Inggris pertama yang terancam kehilangan status sebagai tim papan atas.
Everton
Bagi Everton, titik balik sejarah mereka terjadi akibat ulah klub tetangga ketimbang perbuatan mereka sendiri. Pada era 1980-an, Everton merupakan salah satu tim terbaik di Eropa dengan menjuarai liga pada tahun 1985 dan 1987, Piala FA tahun 1984, serta Piala Winners Eropa pada 1985. Namun, mereka kehilangan kesempatan untuk membangun kesuksesan tersebut menyusul tragedi Stadion Heysel.
Akibat tewasnya 39 pendukung Juventus yang diserang oleh suporter Liverpool, klub-klub Inggris dilarang tampil di kompetisi Eropa selama lima tahun ke depan. Keputusan ini mengubur peluang Everton untuk melanjutkan dominasi domestik mereka ke kancah internasional. Selepas kepergian manajer Howard Kendall pada tahun 1987, perlahan-lahan skuad tersebut mulai runtuh.
Ketika Liga Primer resmi dibentuk pada tahun 1992, Everton menjadi tim yang lebih sering berjuang di papan bawah. Mereka nyaris terdegradasi pada musim 1993/1994, sementara kejayaan klub-klub seperti Manchester United melesat tajam. David Moyes kemudian datang pada tahun 2002 untuk menstabilkan kondisi klub, tetapi pencapaian terbaik The Toffees saat itu hanyalah finis di papan tengah atas.
Leeds United
Leeds United sempat menjuarai Divisi Pertama terakhir di bawah kepemimpinan Howard Wilkinson dan memulai era Liga Primer dengan diperkuat talenta muda berbakat seperti Gordon Strachan, Gary Speed, serta Harry Kewell. Mereka menembus semifinal Piala UEFA pada tahun 2000 dan melaju ke semifinal Liga Champions setahun berselang. Ketua klub saat itu, Peter Ridsdale, meminjam uang dengan mengandalkan masa depan Leeds demi mendanai kesuksesan jangka pendek.
Ridsdale bersama jajaran direksi meminjam dana sebesar 60 juta poundsterling dari pemasukan tiket masa depan dengan spekulasi bahwa mereka akan menjadi kontestan reguler Liga Champions. Kenyataannya, mereka justru terlempar ke Piala UEFA pada tahun berikutnya dan finis di peringkat ke-15 pada tahun 2003. Tanda-tanda kebangkrutan mulai terlihat ketika Rio Ferdinand dijual seharga 30 juta poundsterling ke Manchester United setelah Ridsdale sebelumnya menyatakan klub hanya perlu menjual pemain senilai 15 juta poundsterling untuk menyeimbangkan keuangan. Pada musim 2002/2003, terungkap bahwa Leeds memiliki utang mencapai 80 juta poundsterling.
Oral penjualan besar-besaran terjadi dengan melepas banyak bintang andalan dengan harga murah. Penjualan Jonathan Woodgate, pemain didikan akademi yang menjadi kesayangan suporter, menjadi bukti paling nyata bahwa klub sedang berada di jurang kehancuran. Ridsdale mengakui bahwa Leeds sedang menanggung akibat karena telah hidup di atas mimpi, namun situasi justru semakin memburuk. Degradasi terjadi pada tahun 2004, yang menjadi pukulan telak bagi reputasi sekaligus kondisi finansial klub.
Mereka bahkan merosot ke League One pada tahun 2007 hingga membuat klub harus masuk dalam pengawasan kurator. Leeds lantas menghabiskan waktu selama 16 tahun di luar kasta tertinggi sebelum akhirnya kembali di bawah asuhan Marcelo Bielsa, meski hingga kini status mereka masih jauh dari kejayaan masa lalu.
Nottingham Forest
Kisah Nottingham Forest terbilang tidak biasa karena status klub besar mereka dibangun berkat kerja keras dua sosok saja, yakni Brian Clough dan Peter Taylor. Sebelum tahun 1975, prestasi terbaik Forest hanyalah meraih dua gelar Piala FA dan satu kali menjadi runner-up liga. Ketika Clough tiba, klub tersebut sedang berada di peringkat ke-13 Divisi Kedua dan kehadirannya pun tidak disambut hangat.
Bahkan setelah masa kerja singkatnya yang terkenal selama 44 hari di Leeds, empat anggota dewan direksi Forest sempat mengancam akan mundur jika Clough didekati, apalagi ditunjuk sebagai manajer. Wakil ketua klub Stuart Dryden tetap bersikeras dan resmi mengangkatnya pada bulan Januari. Pada musim perdana tersebut, Forest finis di peringkat ke-16, tetapi setahun berselang mereka melonjak ke posisi kedelapan. Pada musim penuh kedua Clough dengan didampingi kembali oleh Taylor, mereka sukses promosi setelah finis di peringkat ketiga.
Setahun kemudian, mereka mencatatkan prestasi luar biasa dengan menjuarai Divisi Pertama pada musim pertama kepulangan mereka ke kasta tertinggi, sekaligus mengamankan gelar Piala Liga. Clough kemudian membawa Forest merajai Piala Eropa pada tahun 1979 dan 1980. Taylor lantas meninggalkan klub pada tahun 1982 dan Forest gagal mengulang pencapaian gemilang yang sama. Memasuki era Liga Primer, Clough dan Forest mulai kewalahan sebelum ia mengumumkan pensiun pada April 1993 di tengah ancaman degradasi.
Aston Villa
Hanya berselang lima tahun setelah mengangkat trofi Piala Eropa, Aston Villa justru harus berlaga di kompetisi Divisi Kedua. Kecepatan penurunan performa klub tersebut menjadi sesuatu yang sangat luar biasa. Tony Barton, juru taktik yang mempersembahkan gelar Eropa pada tahun 1982, meninggalkan posisinya pada tahun 1984 dan klub mulai menghadapi masalah keuangan menyusul renovasi tribun utara senilai 1,3 juta poundsterling.
Situasi tersebut memaksa para pemain skuad juara Eropa untuk hengkang tanpa pengganti yang sepadan. Klub akhirnya terdegradasi pada tahun 1987, yang menandai berakhirnya masa-masa mereka sebagai salah satu klub papan atas Inggris. Mereka memang sempat bangkit di bawah arahan Graham Taylor dan menghabiskan 25 tahun di Liga Primer sebelum kembali terdegradasi ke Championship pada tahun 2016.
Klub saat ini berupaya memulihkan status mereka di bawah manajer Unai Emery yang kembali mempersembahkan trofi juara Eropa, meski mereka masih memerlukan waktu untuk mengembalikan prestise seperti awal dekade 1980-an.
Sumber: Planet Football







