Daftar Isi
Lima tahun setelah kepergian sang legenda, bayang-bayang Diego Armando Maradona masih sangat kuat di kota Naples, Italia. Di tengah gelombang pemujaan tersebut, putra sulungnya, Diego Maradona Jnr, kembali berkunjung ke kota tempat ia dibesarkan untuk mengenang perjalanan hidupnya sebagai anak dari seorang ikon sepak bola dunia.
Kenangan Abadi di Kota Naples
Bagi warga Naples, Diego Sr bukan sekadar pemain bola, melainkan sosok dewa sepak bola yang membawa klub tersebut bersaing di papan atas Serie A sekaligus menjuarai Piala Dunia bersama Argentina. Antonio ‘Bostik’ Esposito, mantan pemimpin ultras Napoli, menuturkan bahwa sang bintang adalah sosok manusia super yang sangat dicintai masyarakat setempat seperti dilaporkan FourFourTwo. Kini, kawasan Quartieri Spagnoli dipenuhi mural raksasa dan suaka penghormatan bagi sang legenda yang setiap hari dikunjungi para pelancong.
Keberadaan sang ayah juga dirasakan melalui berbagai peninggalan unik di penjuru kota. Bruno Alcidi, pemilik sebuah bar, menyimpan sehelai rambut Maradona di dalam sebuah suaka kecil yang ditemukannya di pesawat pada tahun 1986. Di tengah gelombang suaka dan mural wajah ayahnya yang terpampang di setiap sudut kota, Diego Jr mengaku sempat merasa sakit hati setelah kematian ayahnya, namun kini ia merasa terhibur melihat besarnya kasih sayang orang-orang yang datang membawa bunga.
Perjalanan Hidup dan Beban Nama Besar
Lahir dengan nama Diego Armando Sinagra pada 20 September 1986 dari hubungannya dengan Cristiana Sinagra, Diego Jr harus melalui pertarungan hukum yang panjang sebelum akhirnya diakui secara resmi oleh pengadilan Napoli pada tahun 1993. Dibesarkan oleh ibu dan kakek neneknya dari kalangan kelas pekerja, ia mengenang masa kecilnya berjalan normal meski menyandang marga yang sangat dikenal luas. Pengalaman unik sering ia alami, termasuk saat operator telepon ragu ketika ia menyebutkan nama belakangnya.
Karier sepak bolanya sempat membawanya memperkuat timnas Italia kelompok umur U-17 pada tahun 2001 dan akademi Napoli sebelum klub tersebut bangkrut pada 2004. Ia sempat menjalani trial di klub Skotlandia Dunfermline, namun gagal mencapai kesepakatan kontrak seperti dijelaskan oleh direktur sepak bola Jim Leishman. Selepas itu, ia memperkuat Genoa dan beberapa klub semi-profesional regional, sebelum akhirnya sukses besar di kancah sepak bola pantai dengan mencetak gol di final Piala Dunia 2008 melawan Brasil dan membela timnas Italia.
Hubungan Dekat dan Karier Kepelatihan
Hubungan dengan ayahnya perlahan mencair hingga sang ayah secara terbuka mengakuinya pada tahun 2007 dan sempat turun bersama dalam laga amal di Roma pada 2016. Di balik kebanggaan membawa nama besar tersebut, ia mengakui marganya kerap menjadi beban dan hambatan dalam pergaulan sehari-hari. Walau begitu, ia menilai perbandingan dirinya dengan sang ayah adalah hal yang tidak masuk akal karena setiap individu memiliki jalannya masing-masing.
Memasuki usia 38 tahun dan dikaruniai dua anak, Diego Matias serta India Nicole, bersama istrinya Nunzia, ia kini menekuni dunia kepelatihan setelah sebelumnya membesut Napoli United, Pompei, Montecalcio, hingga Ibarra di Tenerife. Menatap masa depan di pinggir lapangan hijau, ia merasa bangga dan damai dengan statusnya sebagai anak dari sang maestro sepak bola, sambil menikmati waktu santai bersama keluarganya di kawasan pantai dekat Naples.
Sumber: Latest from FourFourTwo







