Kapten Liverpool Virgil van Dijk dituding melakukan tindakan egois di lini belakang dengan meninggalkan rekan setimnya untuk berjuang sendirian. Tudingan tersebut dilontarkan oleh mantan pelatih Anderlecht dan Gent, Hein Vanhaezebrouck, jelang pertandingan Liga Champions.
Kritik Terhadap Penampilan Van Dijk
Liverpool sejauh ini sudah menelan tiga kekalahan di semua kompetisi musim ini, yakni takluk 0-3 dari Manchester City di Liga Primer, kalah 1-0 dari sang juara bertahan Arsenal, serta tumbang tipis 3-2 dari Fenerbahce di ajang Liga Champions. Di bawah asuhan Andoni Iraola, performa The Reds sebenarnya mulai menunjukkan progres positif meski sempat menelan dua kekalahan beruntun.
Kendati demikian, lini pertahanan Liverpool dinilai masih menyisakan celah, terutama dalam laga melawan klub asal Turki tersebut. Menurut laporan media Belgia Het Nieuwsblad, Vanhaezebrouck seperti dilaporkan Football365 menilai Club Brugge memiliki peluang untuk mengeksploitasi kelemahan tersebut saat kedua tim saling berhadapan akhir bulan ini. Ia secara khusus menyoroti peran Virgil van Dijk yang seharusnya memberikan perlindungan di lini belakang.
Vanhaezebrouck menyatakan kepada Het Nieuwsblad bahwa bek tengah asal Belanda itu enggan mengambil risiko dalam membantu pertahanan rekan seting tim. “As for who should provide defensive cover, that would be Virgil van Dijk—but he won’t do it,” ujar Vanhaezebrouck.
Ia menambahkan bahwa sang kapten tidak mau mengambil risiko demi menjaga gengsinya. “He doesn’t want to risk being made to look foolish, so he leaves his left-back to fend for himself,” imbuhnya.
Peluang Club Brugge di Liga Champions
Pertemuan antara Club Brugge dan Liverpool dijadwalkan berlangsung di Belgia pada 25 November mendatang. Vanhaezebrouck meyakini klub asal Belgia tersebut punya kapasitas untuk bersaing memperebutkan tempat di posisi delapan besar klasemen fase liga.
Ia mengingatkan agar Club Brugge menghindari kebobolan terlebih dahulu saat menghadapi Liverpool. Pasalnya, pasukan Merseyside itu kerap menerapkan garis pertahanan tinggi, namun langsung mengubah taktik dengan menarik diri ke belakang dan menunggu lawan ketika sudah unggul lebih dulu.







