Bundesliga

Klopp Puji Momen Spesial El Mala Bersaudara di Bundesliga

Klopp Puji Momen Spesial El Mala Bersaudara di Bundesliga

Pelatih tim nasional Jerman, Jürgen Klopp, menyampaikan kegembiraannya atas debut penyerang 1. FC Cologne, Malek El Mala, di ajang Bundesliga. Klopp memberikan ucapan selamat secara pribadi kepada adik Malek, Said El Mala, melalui sambungan telepon saat mengonfirmasi kepastian sang pemain bertahan di skuad senior tim nasional.

Perbincangan Hangat dan Pemanggilan Skuad Timnas

Said El Mala menjadi salah satu dari lima pemain debutan internasional yang kembali dipertahankan dalam 24 nama skuad pilihan Klopp untuk laga Nations League mendatang melawan Serbia dan Belanda pada November. Pemain berusia 20 tahun tersebut mengungkapkan bahwa percakapan telepon keduanya dengan sang pelatih berlangsung jauh lebih santai dibandingkan perbincangan pertama mereka.

Saat berbicara kepada Sky Germany, Said menceritakan bahwa diskusi mereka dengan cepat beralih membahas aksi saudaranya di pentas Bundesliga. “Dia menelepon Anda, memberi tahu bahwa Anda masuk skuad lagi, dan biasanya ada satu atau dua cerita lainnya,” ungkap Said. “Kali ini, dia menyampaikan betapa senangnya dia saat saudara saya masuk dan mencetak gol, serta betapa dia menikmati melihat kami merayakannya bersama.”

Momen Bersejarah El Mala Bersaudara di Bundesliga

Malek El Mala mencatatkan debutnya yang telah lama dinantikan di Bundesliga saat Cologne bermain imbang 1-1 di kandang Union Berlin pada Minggu lalu. Penyerang berusia 21 tahun tersebut masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-72 dan berhasil mencetak gol penyama kedudukan hanya tujuh menit berselang.

Seperti dilaporkan Get German Football News, Said turut berperan dalam terciptanya gol debut sang kakak. Said mengrimkan umpan silang awal yang kemudian diteruskan oleh Alessio Castro-Montes menuju Malek di tiang jauh. Selebrasi bersama kedua bersaudara di lapangan tersebut menjadikan mereka pasangan kakak-beradik pertama yang tampil bersama untuk Cologne dalam laga Bundesliga sejak Klaus dan Thomas Allofs pada musim 1986/1987.

Momen berharga tersebut juga membawa keharuan mendalam bagi keluarga yang sengaja bepergian ke Berlin untuk menyaksikan sejarah tersebut. “Saat kami melakukan panggilan FaceTime sehari kemudian, ibu saya kehilangan suaranya,” tutur Said. “Saya pikir dia bahkan menangis di stadion. Mereka mungkin sepuluh kali lebih bahagia di tribun daripada saya di lapangan.”

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *