Presiden Como, Mirwan Suwarso, mengungkapkan ambisi klubnya untuk mengadopsi filosofi permainan Barcelona sekaligus menerapkan strategi rekrutmen berbasis data seperti Brighton dan Brentford. Pernyataan tersebut disampaikan Suwarso dalam wawancara eksklusif bersama komentator TNT Sports, Adam Summerton, seperti dilaporkan Football Italia.
Sesi wawancara itu berlangsung tidak lama setelah Como meraih kemenangan 9-1 atas Lens, yang tercatat sebagai kemenangan terbesar bagi tim asal Italia dalam sejarah Liga Champions. Suwarso menegaskan bahwa manajemen klub ingin membangun identitas sepak bola yang berkelanjutan di segala lini.
Filosofi Permainan dan Model Rekrutmen
Suwarso menjelaskan bahwa Brighton dan Brentford telah menjadi acuan utama banyak klub dalam hal perekrutan pemain. Namun, Como memilih untuk memulai segalanya dari fondasi karakter atau DNA permainan klub itu sendiri.
Menurut Suwarso kepada TNT Sports, Como ingin memiliki DNA sepak bola seperti Barcelona yang mengutamakan penguasaan bola, penerapan persing ketat, serta gaya main yang menyerang dan menarik. Di saat yang sama, pihak klub berupaya berburu pemain berbakat yang dinilai kurang mendapat perhatian pasar (undervalued) untuk disesuaikan ke dalam sistem tim melalui metode analisis data.
Perjalanan Como sendiri dimulai ketika Hartono bersaudara mengambil alih kepemilikan klub saat masih berlaga di Serie D pada tujuh tahun lalu. Cesc Fabregas kemudian bergabung sebagai pemain pada 2022 dan kini bertindak sebagai pelatih kepala yang sukses membawa klub bersaing di panggung Eropa.
Saat ini skuad asuhan Fabregas menempati posisi keempat klasemen sementara Serie A dengan mengumpulkan 23 poin. Como memiliki peluang untuk melompati juara bertahan Inter Milan apabila mampu mencuri kemenangan dalam pertandingan di San Siro pada Minggu pukul 18.00 CET.
Persaingan Serie A dan Strategi Bisnis Como
Mengenai persaingan antara Serie A dan Liga Premier Inggris, Suwarso menilai kompetisi di Italia membutuhkan waktu untuk kembali ke puncak. Ia memandang perkembangan dunia sepak bola dan ekonomi berjalan secara siklis, di mana Serie A yang dulu pernah mendominasi kini mulai menunjukkan kebangkitan kembali lewat permainan yang lebih ofensif dan kehadiran banyak pemain muda.
Selain fokus pada pencapaian tim di lapangan, Como mulai mengembangkan lini bisnis dengan menjual keahlian manajemen serta strategi sepak bola mereka kepada klub lain. Suwarso mengungkapkan bahwa langkah ini diambil karena potensi pendapatan dari satu klub saja cenderung terbatas. Saat ini Como telah menjalin kerja sama layanan profesional dengan 27 klub lain.
Suwarso juga menepis anggapan negatif soal persaingan antarklub di Italia. Ia menilai pemberitaan media kerap tidak mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya, karena klub-klub di Serie A pada kenyataannya saling bekerja sama demi memajukan industri sepak bola Italia.
Sumber: Football Italia







