Lisandro Martínez mendapat kritik tajam menyusul kartu merah yang diterimanya dalam kekalahan 2-0 Manchester United atas Chelsea. Broadcaster Scott Saunders bahkan berpendapat bahwa bek asal Argentina tersebut seharusnya tidak pernah lagi membela klub.
Kritik Keras atas Kartu Merah
Martínez diganjar dua kartu kuning dalam selang waktu beberapa menit saja di Stamford Bridge. Kartu kuning pertama didapatnya usai menjatuhkan Morgan Rogers, sebelum ia kemudian memberikan hadiah penalti karena mengenai wajah Wesley Fofana dengan lengannya saat situasi sepak pojok.
Cole Palmer sukses mengeksekusi tendangan penalti tersebut untuk memupus harapan United bangkit. Berbicara di acara talkSPORT Goals Show, seperti dilaporkan CaughtOffside, Saunders melontarkan penilaian keras terhadap tindakan sang bek.
Saunders menyatakan bahwa pemain tersebut bertindak seperti orang bodoh dan tindakannya sama sekali tidak ada gunanya meskipun ia senang bermain di batas pelanggaran. Kemarahan Saunders berpusat pada kurangnya kedisiplinan Martínez, terutama mengingat United sudah tertinggal 0-1 saat insiden kedua terjadi.
Saunders menambahkan bahwa pemain tersebut seharusnya tidak bisa bermain untuk Man United lagi. Ia melanjutkan bahwa Martínez seharusnya bertindak sebagai pemimpin di dalam tim dan jika seperti itu cara bertindak seorang pemimpin, ia merasa khawatir dengan arah tim ke depan, seraya menegaskan bahwa sang pemain tidak boleh dipilih lagi.
Mantan gelandang Liverpool Danny Murphy turut melontarkan kritik serupa dengan menyebut Martínez sebagai beban dan menilai kartu merah yang didapatnya sungguh konyol.
Masalah Disiplin dan Tren Buruk
Permasalahan yang ada bukan lagi sekadar satu tekel buruk. Martínez sebelumnya sudah berada dalam sorotan akibat kritik terbuka terhadap petinggi Manchester United pada awal Oktober, yang berujung pada sanksi denda dari klub dan permintaan maaf.
Dalam laga kontra Chelsea, ketenangan yang hilang dari dirinya berkontribusi langsung pada kekalahan lain. United sebenarnya tampil menjanjikan pada babak pertama dan menciptakan peluang lebih baik daripada Chelsea, namun pertandingan lepas kendali setelah Rogers mencetak gol dan Martínez kehilangan kontrol.
Hasil minor tersebut memperpanjang catatan tanpa kemenangan United menjadi sembilan pertandingan, yang menjadi rekor terpanjang sejak 1988. Agresivitas Martínez selalu menjadi salah satu kekuatannya, tetapi ketika hal itu berubah menjadi kecerobohan, ia menjelma sebagai sebuah beban bagi tim.
Di tengah rencana perombakan lini belakang oleh United serta masa depan Martínez yang belum pasti, momen-momen seperti ini semakin memperkuat argumen bahwa klub mungkin perlu mengambil langkah untuk melepas sang pemain.
Sumber: CaughtOffside







