Daftar Isi
Yamaha mengambil keputusan untuk menarik diri dari ajang MotoGP Qatar 2026 akibat kondisi keamanan di kawasan Timur Tengah yang terus memanas. Pabrikan asal Jepang ini dipastikan tidak ambil bagian dalam rangkaian balapan yang dijadwalkan bergulir di Sirkuit Lusail, Doha, pada 6 hingga 8 November.
Keputusan Absen untuk Dua Tim Yamaha
Langkah mundur ini berlaku bagi seluruh lini Yamaha Group yang menaungi dua tim sekaligus, yaitu skuad utama Yamaha Monster Energy serta tim satelit Prima Pramac. Akibat keputusan tersebut, kedua tim bakal melewatkan seri ke-20 musim ini dan memilih mengalihkan fokus persiapan menghadapi seri berikutnya di Portugal, seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Situasi tersebut secara otomatis membuat empat pembalap andalan mereka harus absen dari lintasan Lusail. Keempat pembalap yang tidak dapat tampil meliputi Fabio Quartararo, Alex Rins, Jack Miller, serta Augusto Fernandez.
Alasan Pembatasan Perjalanan Perusahaan
Melalui keterangan resmi pada Minggu, pihak Yamaha menjelaskan bahwa kebijakan ini diambil setelah meninjau perkembangan situasi terakhir di kawasan Timur Tengah. Manajemen menilai aturan pembatasan perjalanan yang berlaku di internal perusahaan masih harus terus diterapkan.
“Setelah mengamati situasi terakhir terhadap situasi di Timur Tengah, Yamaha tidak menemukan alasan yang cukup untuk mengubah pembatasan perjalanan yang berlaku di seluruh perusahaan,” tulis Yamaha.
“Oleh karena itu, Yamaha telah menginformasikan MotoGP Group tentang keputusan untuk tidak berpartisipasi dalam Grand Prix Qatar 2026,” lanjut pernyataan tersebut.
Permohonan Pembatalan yang Ditolak
Sebelum menyatakan mundur secara sepihak, manajemen Yamaha sempat melayangkan permintaan kepada pihak penyelenggara MotoGP agar seri Grand Prix Qatar dibatalkan pada Minggu (1/11) siang. Kendati demikian, upaya tersebut tidak membuahkan hasil sehingga pabrikan berlogo garpu tala itu memilih opsi menarik diri dari keikutsertaan.
Jadwal seri MotoGP Qatar sendiri mengalami pergeseran dari rencana awal pada April lalu akibat konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Timur Tengah, hingga akhirnya dijadwalkan ulang pada November.







