Barcelona dijatuhi denda sebesar 602 euro atau sekitar Rp10 juta oleh Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) menyusul pendekatan mereka terhadap penyerang Atlético de Madrid, Julián Álvarez, pada bursa transfer musim panas lalu. Angka tersebut dilaporkan setara dengan biaya makan malam yang layak di Barcelona atau sekitar 0,000006 persen dari total tawaran yang sempat disiapkan klub Catalan tersebut.
Kronologi Sanksi dan Kasus Álvarez
Atlético melaporkan Barcelona kepada RFEF pada Juli lalu dengan tuduhan upaya perekrutan penyerang asal Argentina itu yang dinilai tidak sah serta melanggar etika antar klub. Pihak federasi mengonfirmasi pada Selasa bahwa Barcelona dijatuhi sanksi berdasarkan Pasal 133 dalam kode disiplin terkait pelanggaran kepatuhan terhadap perintah, instruksi, perjanjian, atau kewajiban regulasi.
Denda sebesar 602 euro tersebut merupakan denda maksimal untuk kategori pelanggaran ringan. Meskipun demikian, pihak Barcelona berencana untuk tetap mengajukan banding dan selalu membantah telah melakukan kesalahan.
Respons dan Performa Pemain
Sebelumnya, The Athletic melaporkan pada Mei lalu bahwa Barcelona sedang mempersiapkan tawaran resmi senilai sekitar 100 juta euro untuk Álvarez. Pihak Atlético sempat merespons sengketa tersebut secara terbuka melalui unggahan media sosial dengan takarir yang meminta publik agar tidak percaya pada segala hal yang dilihat, khususnya yang berkaitan dengan Barcelona.
Álvarez sempat menyampaikan keinginannya saat Piala Dunia dengan menyebut bahwa kepindahan adalah opsi terbaik dan ia ingin mewujudkan mimpinya, meski kepindahan tersebut akhirnya tidak pernah terwujud. Memasuki awal musim, sang penyerang sempat mendapat siulan dan desakan untuk hengkang dari para pendukung Atlético, namun situasi kini telah mereda dengan catatan dua gol dan dua asis dari sembilan pertandingan, termasuk gol penentu kemenangan atas Deportivo La Coruña, sementara kontraknya masih berlaku hingga 2030.
Usai pertandingan melawan Deportivo La Coruña, Álvarez menyampaikan permohonan maaf kepada para pendukung melalui siaran Movistar Plus atas komentar dan waktu penyampaian yang dianggap sebagai kesalahan, serta memahami kemarahan suporter mengingat dukungan besar yang selalu diberikan kepadanya.
Sumber: Inside World Football







