Analisis

Upaya Borussia Dortmund Jauhkan Suporter dari Ponsel

Upaya Borussia Dortmund Jauhkan Suporter dari Ponsel

Pemandangan di Yellow Wall, tribun berdiri terbesar di Eropa, tampak berjalan seperti biasa ketika penyiar stadion menyebut nama-nama pemain Borussia Dortmund dan puluhan ribu suporter membalasnya dengan meneriakkan nama belakang mereka. Suasana Signal Iduna Park dengan kapasitas 81.365 penonton bergemuruh merayakan kemenangan tipis atas Eintracht Frankfurt yang membawa tim tuan rumah menyamai perolehan poin Bayern Munich di puncak klasemen sementara Bundesliga.

Program Penghargaan untuk Mengurangi Penggunaan Ponsel

Namun, di balik dukungan luar biasa tersebut, pihak klub merasa ada persoalan yang perlu ditangani terkait perilaku suporter di dalam stadion. Sebelum pertandingan berlangsung, Borussia Dortmund mengumumkan sebuah program penghargaan bagi para penonton yang tidak memainkan telepon genggam mereka selama pertandingan berjalan. Suporter yang mengaktifkan fitur khusus bernama “mode suporter” pada aplikasi klub berkesempatan memenangkan jersey bertanda tangan serta kartu hadiah toko cendera mata.

Melalui sistem tersebut, pihak klub dapat memantau seberapa jarang suporter membuka kunci ponsel mereka selama laga berlangsung dan memberikan poin untuk setiap menit ponsel tersebut dibiarkan di dalam saku. Langkah ini tidak diambil sendirian oleh Dortmund, mengingat klub divisi dua Jerman seperti Hertha Berlin dan Dynamo Dresden telah melarang pembuatan video komersial ala influencer di stadion demi menjaga integritas hak siar televisi serta kenyamanan penonton lain.

Pertentangan Antara Pengalaman Langsung dan Kebebasan Suporter

Kehadiran para kreator konten dinilai mengganggu karena mereka mengambil dan memonetisasi rekaman suasana pertandingan yang menjadi daya tarik utama bagi penonton reguler. Masalah serupa juga melanda turnamen tenis mayor seperti US Open yang sempat terganggu oleh aktivitas kreator konten hingga wasit harus meminta mereka mematikan lampu cincin, sementara Wimbledon secara tegas menolak memberikan akreditasi bagi para influencer.

Direktur Utama Borussia Dortmund Carsten Cramer menyatakan bahwa momen lebih dari 81.000 orang di stadion bernyanyi, bersorak, dan menahan napas bersama merupakan pengalaman di masa kini yang tidak tergantikan. Pandangan senada disampaikan oleh pimpinan eksekutif Vodafone Jerman sekaligus sponsor klub, Marcel de Groot, yang mengajak suporter untuk meninggalkan ponsel di dalam saku dan memusatkan perhatian pada laga di lapangan.

Kebijakan tersebut memicu perdebatan mengenai batas hak klub sepak bola profesional dalam mendikte cara suporter menikmati pertandingan yang mereka saksikan secara langsung. Pertanyaan mengenai kewajiban pemegang tiket, ekspektasi perilaku dalam komunitas sepak bola, serta pandangan apakah sepak bola kini telah bergeser menjadi sekadar konten hiburan menjadi perdebatan tersendiri.

Aturan Bundesliga yang mempertahankan kepemilikan mayoritas oleh suporter menjadikan liga tersebut sebagai salah satu surga bagi pendukung dengan harga tiket relatif murah dan kebijakan yang mengutamakan suporter. Borussia Dortmund selama ini dikenal sebagai teladan dalam hal loyalitas pendukung yang justru menjadi daya tarik bagi para influencer untuk datang ke stadion.

Para pengamat menilai bahwa para influencer pada akhirnya akan disingkirkan dari stadion seiring transformasi klub sepak bola modern yang menyerupai rumah produksi. Di sisi lain, suporter biasa tidak dapat begitu saja diatur perilakunya oleh tim yang menganggap tindakan mereka tidak diinginkan, dan para pendukung tersebut tetap memegang kendali penuh melalui keputusan pembelian tiket mereka.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *