Daftar Isi
Estrella Football Group resmi mengakuisisi klub Italia Pro Patria pada Juli lalu sebagai bagian dari visi jangka panjang mereka untuk membangun model pengelolaan klub sepak bola horizontal. Kepada Football Italia, Co-founder dan Presiden Estrella, David Dwinger, menjelaskan bagaimana kelompok investasi asal Eropa tersebut menerapkan pendekatan baru yang menyeimbangkan dukungan kolektif dengan otonomi lokal.
Kriteria Pemilihan dan Akuisisi Pro Patria
Sebelum mengakuisisi Pro Patria, Estrella telah lebih dulu mengambil alih Cascais SAD di Portugal dan Carvoeiro United. Dalam wawancara eksklusif dengan Football Italia, David Dwinger menceritakan bahwa setelah membeli Cascais, perusahaannya mulai menyusun sekitar 45 kriteria yang dimasukkan ke dalam sebuah alat digital khusus. Alat ini kini telah memuat data dari lebih dari 3.000 klub, sebagian besar berasal dari negara-negara sepak bola di Eropa.
Proses analisis dilakukan secara mendalam menggunakan platform milik mereka jauh sebelum negosiasi formal dimulai. Ketika memilih Pro Patria yang berbasis di Busto Arsizio, Lombardy, Dwinger mengaku tertarik pada sejarah klub, kedekatannya dengan Milan, serta konteks lokal yang kuat. Ia menyoroti peran mitra mereka, Luca Bassi, yang memiliki keterikatan emosional mendalam dengan klub tersebut serta infrastruktur yang dinilai memiliki ruang untuk berkembang.
Estrella membagi target klub dalam empat kategori makro, yakni klub merek, akademi, performa, dan klub yang sedang mengalami kemunduran atau fallen angels. Menurut Dwinger, Pro Patria berada di antara klub performa dan klub akademi. Target jangka menengah klub ini adalah menembus kompetisi Serie C dan memiliki potensi untuk promosi ke Serie B.
Model Horizontal dan Penguatan Akademi
Berbeda dengan model kepemilikan multi-klub vertikal yang menerapkan hierarki kaku, Estrella menggunakan model horizontal di mana setiap klub tetap independen. Mereka didukung oleh pembagian pengetahuan, sumber daya operasional, dan perencanaan jangka panjang tanpa kehilangan identitas lokal. Fokus utama kelompok ini adalah membangun fondasi yang kokoh melalui akademi pemain muda.
Dwinger menegaskan bahwa akademi adalah dasar dari sebuah klub sepak bola yang sukses. Pengalaman keluarganya dan keterlibatan anaknya di akademi Ajax menjadi acuan penting bahwa sebuah klub harus dikenal karena memberikan kontrak profesional kepada pemain mudanya. Dengan reputasi tersebut, sistem pencarian bakat atau scouting akan berjalan secara alami dari dalam klub.
Dalam menjalankan operasional harian, Estrella menggunakan aplikasi buatan sendiri bernama ClubOS yang diterapkan di seluruh klub dalam jaringan mereka. Aplikasi ini berfungsi sebagai sistem operasi untuk berbagai departemen klub, sekaligus memperlancar pertukaran informasi dan pengetahuan antar-klub seperti kunjungan staf teknis ke klub-klub lain di Eropa.
Rencana Strategis dan Keberlanjutan Finansial
Investasi yang dilakukan Estrella tidak berfokus pada belanja pemain berbiaya jutaan euro, melainkan pada pembangunan sistem dan fondasi yang berkelanjutan. Dwinger menyatakan bahwa kesuksesan di lapangan harus lahir dari manajemen bisnis, kecerdasan komersial, dan struktur organisasi yang matang agar klub dapat bertahan hingga seratus tahun ke depan.
Di Pro Patria, manajemen berencana bekerja sama dengan tim lokal termasuk Presiden Rosanna Zema, Direktur Olahraga Giovanni Giovanditti, Kepala Akademi Baru Augusto Splendore, dan mitra lokal Luca Bassi. Selain itu, pembicaraan awal telah dilakukan dengan perusahaan pembuat rumput lapangan asal Belanda, TenCate, yang memiliki pabrik di Italia untuk meningkatkan kualitas lapangan Pro Patria.
Tim inti Estrella di tingkat pusat sengaja dipertahankan dalam jumlah kecil guna memaksimalkan alokasi dana untuk pembelian klub. Tim ini terdiri dari David Dwinger, pendiri bersama Alessandro Nuccetelli, CEO Xander Czaikowski yang merupakan mantan CEO klub PEC Zwolle, serta Direktur Olahraga Global Cristiano Piccini yang merupakan mantan pemain tim nasional Italia.
Ke depan, Estrella menargetkan untuk mengakuisisi lima klub setiap tahunnya. Melalui model kepemilikan horizontal ini, setiap klub baru yang ditambahkan ke dalam jaringan akan memperkuat ekosistem secara keseluruhan tanpa ada klub yang dikesampingkan.
Sumber: Football Italia







