Analisis

Data Mengapa Keberuntungan Michael Carrick di MU Habis

Data Mengapa Keberuntungan Michael Carrick di MU Habis
Daftar Isi
  1. Regresi Statistik dari Musim Sebelumnya
  2. Ketidakmampuan Menguasai Permainan dan Kualitas Peluang
  3. Sorotan Taktik dan Penurunan Intensitas Fisik

Performa Manchester United di bawah asuhan pelatih Michael Carrick mengalami penurunan drastis pada musim 2026-2027. Meski sempat mencatatkan perolehan 46 poin yang menjadikannya tim paling produktif ketiga di Liga Primer setelah Arsenal dan Manchester City selama masa kepemimpinannya, United kini terdampar di urutan ke-16 tanpa kemenangan dalam delapan pertandingan di semua kompetisi.

Regresi Statistik dari Musim Sebelumnya

Keberhasilan Carrick membawa United memuncaki klasemen selama 17 laga sebagai pelatih interim musim lalu dinilai tidak lagi relevan dengan kondisi saat ini. Kekalahan telak tiga gol tanpa balas dari Como dan Bournemouth menempatkan posisinya dalam ancaman serius. Menurut model expected points milik Opta seperti dilaporkan The Guardian, United sejatinya meraih 3,8 poin lebih sedikit dari performa statistik yang mereka tunjukkan musim ini, dengan posisi yang diharapkan berada di peringkat ke-10.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan musim 2025-2026, di mana United melampaui raihan expected points mereka hingga 12,7 poin, angka tertinggi di antara semua klub Liga Primer. Delapan dari 12 kemenangan liga di bawah Carrick musim lalu diraih hanya dengan selisih satu gol. Keberuntungan tersebut tidak bertahan lama, sementara aktivitas transfer musim panas yang kurang efektif semakin memperbesar potensi penurunan performa tim.

Ketidakmampuan Menguasai Permainan dan Kualitas Peluang

Masalah United tidak sekadar akibat keberuntungan yang menjauh, melainkan juga ketidakmampuan membongkar pertahanan lawan saat mendominasi penguasaan bola. Kemenangan-kemenangan besar musim lalu justru diraih saat United minim menguasai bola, seperti melawan Manchester City (32 persen), Liverpool (38 persen), Chelsea (40 persen), dan Arsenal (43 persen). Sebaliknya, pada musim 2026-2027, United gagal mencetak gol saat menghadapi Hull dan Bournemouth meski menguasai bola masing-masing sebesar 72 persen dan 63 persen, serta gagal memanfaatkan keunggulan jumlah pemain saat melawan City dengan 55 persen penguasaan bola.

Meski memimpin liga dalam jumlah tembakan, United menjadi tim dengan proporsi tembakan luar kotak penalti tertinggi. Hal ini membuat rata-rata non-penalty expected goals per tembakan milik United menjadi yang terburuk kedua di Liga Primer.

Sorotan Taktik dan Penurunan Intensitas Fisik

Kritik terhadap taktik Carrick sempat dilontarkan oleh kapten tim Bruno Fernandes usai kekalahan dari Como. Menanggapi komentar sang kapten, Carrick menegaskan pentingnya kerja keras para pemain di lapangan. “Sistem apa pun yang Anda mainkan, taktik apa pun yang Anda gunakan, jika Anda tidak berlari, baik ke depan maupun ke belakang, Anda tidak akan menang,” kata Carrick.

Data dari Gradient Sports menunjukkan bahwa jarak jelajah United memang meningkat menjadi 112,3 km per pertandingan dibandingkan 102,2 km pada musim lalu. Namun, jumlah lari cepat (sprint) para pemain non-kiper justru mengalami penurunan per 90 menit. Pemain baru seperti Youri Tielemans mencatatkan angka sprint yang bahkan berada di bawah level Casemiro musim lalu, meski usianya lima tahun lebih muda.

Meski penguasaan bola rata-rata United meningkat dari 49,1 persen menjadi 56,7 persen, penurunan intensitas lari tidak bisa sepenuhnya disebabkan oleh dominasi bola, mengingat Arsenal yang memiliki penguasaan bola 61,1 persen tetap melakukan sprint lebih sering. Penurunan intensitas ini menimbulkan pertanyaan apakah para pemain mulai kehilangan motivasi atau kesulitan mengatasi padatnya jadwal akibat berlaga di Liga Champions.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *